Berita

19 Agustus 2010: Bertambah Lagi Satu Doktor baru

Umi Haryati (NIP 19601017 198903 2 001), salah seorang staf peneliti Fisika dan Konservasi Tanah dan Air di Balai Penelitian Tanah Bogor, pada hari Jum’at, tanggal 6 Agustus...
Selengkapnya...

22-24 Juli 2010: Koordinasi Pengelolaan Situs Web Badan Litbang Pertanian

Koordinasi Pengelolaan Situs Website Badan Litbang Pertanian bertempat di Inna Sindhu Sanur Beach Hotel, Sanur-Bali dihadiri oleh 39 orang staf UK/UPT Badan Litbang Pertanian ...
Selengkapnya...

7 Juli 2010: Perjanjian Lisensi Pemanfaatan Formulasi dan Teknologi Produksi Decomposer Super Aktive (DSA)

Dalam rangka percepatan diseminasi hasil penelitian, Balittanah dan PT. Bintang Timur Pasifik melakukan Penandatanganan Perjanjian Lisensi Pemanfaatan Formulasi dan Teknologi ...
Selengkapnya...

7 Juli 2010: Sosialisasi dan pengisian kuesioner penilaian IPNBK (Indeks Penerapan Nilai-nilai Budaya Kerja)

Menindaklanjuti surat sekretaris Badan Litbang Pertanian No. 2068/OT.140/I.1/2010, tangga; 24 Juni 2010 perihal pengukuran IPNBK (Indeks Penerapan Nilai-nilai Budaya Kerja) d...
Selengkapnya...

17 Juni 2010: Perjanjian Lisensi Pupuk Hayati BIOBUS

Bertempat di ruang Rapat Gedung B BBSDLP telah dilakukan perjanjian lisensi Pemanfaatan Formulasi dan Teknologi Produksi Pupuk Hayati BIOBUS antara Ka. Balittanah (Dr. Ir. Sri...
Selengkapnya...

17 Juni 2010: Balittanah menerima Sertifikat ISO 9001/2008

Bertepatan dengan upacara kesadaran nasional yang diselenggarakan di Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (BALITKLIMAT), Balittanah secara resmi telah menerima sertifikat...
Selengkapnya...

14-17 Juni 2010: Pelatihan Petugas Pengambil Contoh Pupuk

Balittanah mengadakan Pelatihan Petugas Pengambil Contoh Pupuk yang akan diadakan pada tanggal 14-17 Juni 2010. Pada hari pertama 14 Juni 2010 acara dibuka oleh Kepala BBSDLP ...
Selengkapnya...

11 Mei 2010: Rapat Koordinasi

Rapat koordinasi dipimpin oleh Kepala Balittanah (Dr. Ir. Sri Rochayati, M.Sc) yang dihadiri kurang lebih 40 staf Balittanah terdiri dari Kasie Yantek (Husein Suganda, S.Si,...
Selengkapnya...

3 Mei 2010: Seminar Purna Bhakti Prof. Dr. Ir. Abdurachman Adimihardja, M.Sc.

BBSDLP/Balittanah menyelenggarakan acara perpisahan dengan Prof. Dr. Ir. Abdurachman Adimihardja, M.Sc melakukan seminar purna bhakti. Beliau menyelenggarakan acara ini u...
Selengkapnya...

27 April 2010: Peletakan batu pertama pembangunan tahap kedua gedung Balittanah

  Tanggal 27 April 2010 merupakan peristiwa bersejarah karena pada hari tersebut merupakan peletakan batu pertama pembangunan tahap kedua gedung BBSDLP untuk kantor Balit...
Selengkapnya...

19-21 April 2010: Temu Koordinasi Pengembangan Perpustakaan Digital

  Dalam rangka peningkatan wawasan dan keterampilan pengelola perpustakaan digital telah dilaksanakan Temu Koordinasi Pengembangan Perpustakaan Digital lingkup Kementeri...
Selengkapnya...

14 April 2010: Kunjungan Tim Penilaian Kementerian PAN untuk Penerimaan Penghargaan Citra Pelayanan Prima

Menindaklanjuti pelaksanaan ekspose profil Balai Penelitian Tanah pada 10 Maret 2010 di Wisma Deptan Cipayung dalam rangka penilaian kinerja Unit Pelayanan Publik (UPP) pemeri...
Selengkapnya...

10 Maret 2010: Ekspose Seleksi Calon Penerima Penghargaan Citra Pelayanan Prima

Sebanyak 5 UPT Kementerian Pertanian mengikuti Ekspose Seleksi Calon Penerima Penghargaan Citra Pelayanan Prima Nasional yang diselenggarakan oleh Biro Organisasi dan Kepegawa...
Selengkapnya...

24 Pebruari 2010: Seminar Nasional Peranan Pupuk

Kepala Balai Penelitian Tanah (Dr. Ir. Sri Rochayati, M.Sc) beserta staf peneliti Balai Penelitian Tanah mengikuti Seminar sehari mengenai peranan pupuk berjujdul "Seminar Nas...
Selengkapnya...

19 Pebruari 2010: Sosialisasi Analisis Jabatan

Menindaklanjuti Hasil rapat koordinasi Balittanah, maka pada hari ini telah diadakan Sosialisasi Analisis Jabatan. Rapat dipimpim oleh Plh Kasubag TU Balittanah (Herry Sastram...
Selengkapnya...

17 Pebruari 2010: Upacara Kesadaran Nasional

Balai Penelitian Tanah (Balittanah) mengadakan upacara Kesadaran Nasional 17 Pebruari 2010 yang diikuti oleh 150 peserta yang terdiri atas Staf Balittanah, BB Litbang Sumbe...
Selengkapnya...

15-16 Pebruari 2010: Seminar Hasil Kegiatan RPTP/RDHP 2009

Balittanah telah menyelenggarakan Seminar Hasil Penelitian TA 2009. Kegiatan seminar tersebut dilaksanakan pada tanggal 15 dan 16 Februari 2010. Seminar dibuka oleh Kepala Bal...
Selengkapnya...

Root respiration interferes with peat CO2 emission measurement

Fahmuddin Agus, Etik Handayani, Meine van Noordwijk, Kamarudin Idris, Supiandi Sabiham

Abstract

Root respiration and microbial decomposition release CO2 from peatland. Mixture between these two measurements causes an over-estimation of greenhouse gas contribution, because CO2 produced by the former is offset by atmospheric CO2 removal during photosynthesis. We separated the two components by measuring, from closed chambers, the CO2 emission from the rooted (R) and non-rooted (NR) zones of peatland planted to oil palm. Three pieces of roots were channelled through a 5 cm hole into each of the grounded part of the R chamber. Emitted CO2 was captured by 30-cm diameter and 30-cm tall PVC gas chambers, sampled using 10 ml syringes, and measured using gas chromatography. The measurements were conducted in Aceh, Sumatra in the early rainy season (Oct-Nov 2008). We found that CO2 emitted from the NR chambers was about 62% of that of the R chamber, indicating a significant contribution of the root in producing CO2. The average amount of emitted CO2 from these 1, 5 and 10 year oil palm soils ranged from 18 to 24 t/ha/yr. Capturing both the R and NR zones in CO2 emission measurement is advisable, but under limited resources, the NR zone should be prioritised.

Key Words:
Peat, root respiration, microbial decomposition, CO2 emissions

Paper presented at 19th World Congress of Soil Science, Soil Solutions for a Changing World. 1-6 August 2010. Brisbane. Australia. Published on DVD.

 

Fosfat alam merupakan sumber pupuk fosfat (P) yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri bahan kimia, produk makanan dan suplemen hewan, detergen, dan tidak ketinggalan untuk pembuatan pupuk P bagi pertanian. Hingga saat ini Industri pupuk menggunakan sekitar 90% fosfat alam yang diproduksi dunia. Konversi fosfat alam menjadi pupuk P yang mudah larut memerlukan biaya tinggi, pemborosan energi dan memerlukan jumlah bahan kimia seperti asam sulfat dan asam fosfat  yang besar. Oleh karena itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan pupuk P. Salah satunya adalah menggunakan fosfat alam sebagai pupuk secara langsung (direct application phosphate rock/DAPR).

Dalam upaya mengoptimalkan peranan fosfat alam untuk keperluan pertanian, Balai Peneltian Tanah telah menyusun buku dengan judul FOSFAT ALAM: PEMANFAATAN PUPUK FOSFAT ALAM SEBAGAI SUMBER PUPUK P. Buku ini membahas mengenai sumber dan pemanfaatan fosfat alam bagi kebutuhan pertanian mulai dari lahan kering hingga lahan gambut. Tidak lupa dalam buku ini dibahas mengenai aspek yang berdampak terhadap lingkungan.

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DEPOSIT, PENYEBARAN DAN KARAKTERISTIK FOSFAT ALAM
Kasno, Sri Rochayati, dan Bambang Hendro Prasetyo

PENYEBARAN LAHAN MASAM, POTENSI DAN KETERSEDIAANNYA UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN
Anny Mulyani, A. Rachman, dan A. Dairah

PEMANFAATAN FOSFAT ALAM UNTUK LAHAN KERING MASAM
Sri Rochayati, Mas Teddy Sutriadi, dan A. Kasno

PEMANFAATAN FOSFAT ALAM UNTUK LAHAN SULFAT MASAM
I.G.M. Subiksa dan Diah Setyorini

PEMANFAATAN FOSFAT ALAM UNTUK LAHAN GAMBUT
Wiwik Hartatik

PEMANFAATAN FOSFAT ALAM UNTUK TANAMAN PERKEBUNAN
Nurjaya, A. Kasno dan A. Rachman

PEMANFAATAN FOSFAT ALAM DITINJAU DARI ASPEK LINGKUNGAN
Mas Teddy Sutriadi, Sri Rochayati dan Achmad Rachman

   

Fertilizer Management for Improving Lowland Sawah Productivity in Indonesia:
Integrated Plant Nutrient Management System

Sri Rochayati and Husnain

ABSTRACT

Declining rice yields are strongly related to soil quality degradation particularly nutrient depletion. Nutrient depletion can be attributed to insufficient fertilizer use and imbalanced fertilization. As in many developing countries, Indonesian’s use of fertilizer in sawah soil is not well balance at present and therefore causes several problems such as low rice productivity, environmental pollutions and land degradation. Continuously rice cropping system without returning sufficient amount of nutrient uptake by rice plant could exhausted soil nutrient. On the other hand, excessive amount of fertilizer applied such as urea caused N pollution of soil, water and environment. Nitrogen fertilizer use in Indonesia has seen continued increases since the late 1960s and it reached 2.3 million Mg year-1 (in 2004), however P and K consumption have not followed the same trends as N consumption. As the result, rice productivity has fluctuated and stagnated over the past decade. Recently, improving rice productivity through integrated plant nutrient management system (IPNMS) program was recommended. The IPNMS is mainly based on balanced fertilization combines with organic matter application in to the sawah soil. Balance fertilization contributes to fertilizer use efficiency by keep a balance between nutrient requirement and uptake by rice plant. At the same time, it seeks to maintain a balance between nutrient supply for plant and natural nutrient pools and soil conditions. Site specific fertilizer recommendation based on soil testing was resulted in increasing rice yield and fertilizer use efficiency in sawah soils in Java Island. However, sustainable rice production is not only depending on the balance input and output of nutrient, but also soil organic matter (SOM) status. Principally, organic fertilizer supports soil fertility maintenance and creates a better soil environment for intensive farming by improving chemical fertilizer effectiveness and supplying micro nutrient. At present in Indonesia, farmers are rarely applied organic matter such as rice straw or manure into sawah soil which caused depletion of SOM. Therefore, IPNM practices could substantially support fertilizer management program to improving lowland sawah soil productivity in Indonesia.

Kata kunci: lowland sawah, balanced fertilization, IPNMS, fertilizer use efficiency
Makalah dipresentasikan pada International Conference of “Balanced Nutrient Management For Tropical Agriculture”, 12-16th April 2010, Swiss Garden Resort,  Kuantan, Pahang, Malaysia

   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

English Version

Highlight

Banner Nitrogen
Banner PUTS
ProQuest
ScienceDirect

Link

Kementerian Pertanian

Badan Litbang Pertanian

Puslit/Balai Besar

Balit

BPTP

UNIVERSITAS

LEMBAGA PENELITIAN

LEMBAGA INTERNASIONAL

Agenda Kegiatan